Kajian Perbandingan Tekuk Baja Ringan Antara Hasil Analitis dan Numerik Program LUSAS

Untitled-1Analisis dan perhitungan tekuk dengan numerik pada batang baja ringan penampang C (Canal) pada tulisan ini dilakukan dengan        Peraturan AS/NZS (Australian and Newzealand Standard) dan Perhitungan numerik yang berbasis FEM (Finete Element Metode) dengan program LUSAS. Dipilihnya peraturan AS/NZS karena belum adanya peraturan resmi di Indonesia untuk baja ringan (Coldform –steel). Menggunakan Program LUSAS demi mendapatkan bentuk geometri dari penampang canal baja ringan akibat beban aksial. Dimana kedua hasil perhitungan tersebut dibandingkan untuk mengetahui berapa besar beban kritis yang mampu dipikul profil Canal baja ringan akibat beban aksial maksimal pada rangka. Baca lebih lanjut

ebook – Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-1729-2002)

Sebenarnya saya sudah punya bukunya. Tapi bagi kawan-kawan yang ingin versi ebooknya bisa di download di link download berikut ini. Semoga bisa membantu.

struktur-baja-metode-lrfdJudul Buku :
Perencanaan Struktur Baja Dengan Metode LRFD (Berdasarkan SNI 03-1729-2002)
Penulis :
Agus Setiawan
Penerbit :
Penerbit Erlangga
Tahun :
2008
Bahasa :
Bahasa Indonesia
340 hal
Format File :
pdf
Ukuran File
:19.7 MB
PRAKATA
Metode ASD (Allowable Stress Design) dalam struktur baja telah cukup lama digunakan, namun beberapa tahun terakhir metode desain dalam struktur baja mulai beralih ke metode lain yang lebih rasional, yakni metode LRFD (Load Resistance and Factor Design). Metode ini didasarkan pada ilmu probabilitas, sehingga dapat mengantisipasi segala ketidakpastian dari material maupun beban. Oleh karena itu,  metode LRFD ini dianggap cukup andal. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia (PPBBI 1987) telah diganti dengan Tata Cara Perencanaan Struktur Baja untuk Bangunan Gedung, SNI 03-1729-2002 yang berbasis pada metode LRFD.
Buku ini mencoba memberikan penjelasan mengenai perencanaan struktur baja dengan menggunakan konsep LRFD tersebut. Dalam perencanaan struktur baja metode LRFD yang digunakan dalam buku ini, semuanya berpedoman pada SNI 03-1729-2002 yang telah disebutkan sebelumnya.
Dalam buku ini, dibahasa mengenai konsep dasar LRFD, pengenalan material baja, batang tarik dan tekan, sambungan (baut dan las), komponen struktur balok-kolom, komponen struktur komposit serta jenis-jenis sambungan pada konstruksi bangunan baja.

Selain dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik Sipil, buku ini juga dapat dijadikan pedoman perencanaan bagi konsultan maupun praktisi yng berkecimpung di dunia struktur baja.

Baca lebih lanjut

Pedoman Analisis Harga Satuan Pekerjaan (AHSP) Bidang Pekerjaan Umum

AHSP_2012

Pedoman ini merupakan pengembangan dari Panduan Analisis Harga Satuan (AHS) yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum No.008-1/BM/2010 edisi Desember 2010, Analisa Biaya Konstruksi (ABL) oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) tahun 2008, dan Pedoman Analisa Harga Satuan (PAHS) oleh Puslitbang Sumber Daya Air.

Dalam pedoman ini terdiri atas beberapa pasal, yaitu :
Pasal 1 sampai dengan pasal 5 Baca lebih lanjut

Pemeriksaan Berat Satuan Agregat

Perbandingan antara berat dan volume pasir termasuk pori-pori antara butirannya disebut berat volume atau berat satuan. Tujuan dari pemeriksaan ini dimaksud untuk mengetahui cara mencari berat satuan pasir, kerikil, atau campuran.

Benda uji yang digunakan yaitu pasir atau kerikil kering tungku minimal sama dengan kapasitas bejana yang dipakai. Sedangkan alat yang digunakan antara lain Baca lebih lanjut

Pemeriksaan Diameter Pengenal Tulangan

Untuk mengetahui diameter suatu tulangan perlu dilakukan pemeriksaan berdasarkan berat dan panjang benda uji. Kita tidak bisa mengetahui diamater suatu tulangan dengan cara mengukur diameter secara langsung karena sering ditemui besi tulangan yang ada di pasaran tidak homogen. Cara melakukan pemeriksaan diameter pengenal tulangan antara lain :

  1. Siapkan benda uji berupa besi tulangan polos dan besi tulangan deform (ulir)
  2. Siapkan alat yang digunakan yaitu timbangan, kaliper, gergaji potong besi
  3. Potong besi tulangan dengan ukuran kurang lebih sepanjang 1 meter
  4. Kemudian timbanglah benda uji besi tulangan polos dan besi tulangan deform. Kemudian catat berapa beratnya

Jika sudah dilakukan pengujian selanjutnya kita cari berapa diameter pengenalnya. Simak cara berikut ini

  1. Berat benda uji (B) = 0,508 kg
  2. Panjang benda uji (L) = 0,802 m
  3. Berat benda uji parameter panjang (m) = B/L = 0,508/0,802 = 0,63 kg/m
  4. Diamater pengenal tulangan (Dn) = 12,74 x √0,63 = 12,74 x 0,79 = 10,06 mm = 1,006 cm

Jadi diameter pengenal tulangan adalah sebesar 1,006 cm. Lalu bagaimana cara mengetahui diameter pengenal tulangan untuk tulangan deform? Caranya masih sama dengan cara tulangan polos.